Kebutuhan Eliminasi

Kebutuhan eliminasi terdiri atas dua, yakni eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang air besar).

A.    Kebutuhan Eliminasi Urine

1. Anatomi-fisiologi

Organ yang berperan dalam terjadinya eliminasi urine adalah ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra.peranan masing masing tersebut, diantaranya:

2. Ginjal

Ginjal merupakan organ retriperitoneal (di belakang selaput perut) yang terdiri atas ginjal sebelah kanan dan kiri tulang punggung. Ginjal berperan sebagai pengatur komposisi dan volume cairan dalam tubuh. Ginjal juga menyaring bagian dari darah untuk dibuang dalam bentuk urine sebagai zat sisa yang tidak diperlukan oleh tubuh. Bagian ginjal terdiri atas nefron yang merupakan unit structural ginjal yang berjumlah kurang lebih satu juta nefron. Melalui nefron, urine disalurkan ke dalam bagian pelvis ginjal kemudian disalurkan melalui ureter ke kandung kemih.

Kandung Kemih (Bladder, buli-buli)

  • Kandung Kemih (Bladder, buli-buli)

Kandung kemih merupakan sebuah kantong yang terdiri atas otot halus yang berfungsi sebagai penampung air seni (urine). Dalam kandung kemih, terdapat lapisan jaringan otot yang memanjang di tengah dan melingkar disebut sebagai detrusor dan berfungsi untuk mengeluarkan urine. Pada dasar kandung kemih, terdapat lapisan tengah jaringan otot yang berbentuk lingkakaran bagian dalam atau disebut sebagai otot lingkar yang berfungsi menjaga saluran antara kandung kemih dan uretra, sehingga uretra dapat menyalurkan urine dari kandung kemih keluar tubuh.

Penyaluran rangsangan ke kandung kemih dan rangsangan motoris ke otot lingkar bagian dalam diatur oleh system simpatis. Akibat dari rangsangan ini, otot lingkar menjadi kendur dan terjadi kontraksi sphincter bagian dalam sehingga urone tetap tinggal dalam kandung kemih. System para simpatis menyalurkan rangsangan penghalang ke bagian dalam otot lingkar. Rangsangan ini dapat menyebabkan terjadinya kontraksi otot detursor dan kendurnya sphincter.

  • Uretra

Uretra merupakan organ yang berfungsi untuk menyalurkan urine ke bagian luar. Fungsi uretra pada wanita mempunyai fungsi yang berbeda dengan yang terdapat pada pria. Pada pria, uretra digunakan sebagai tempat pengaliran urine dan system reproduksi berukuran panjang kurang lebih 20 cm. Uretra pria terdiri dari tiga bagian yaitu  uretra prostatic, uretra membranosa, dan uretra kavernosa. Pada wanita, uretra memiliki panjang 4-6,5 cm dan hanya berfungsi untuk menyalurkan urine ke bagian luar tubuh. (Potter, 1997)

Darah mengalir sampai ginjal melalui arteri renal yang merupakan cabang dari aorta abdomen. Kira-kira darah akan masuk ke ginjal 20-25% dari kardiak out put. Dalam glomerulus ginjal di filtrasi air akan dikeluarkan sebagai urine, tetapi sebagai zat berupa ghtkosa; asam amino; uric acid ; sodium potassium kembali ke plasma. Pengeluaran urine tergantung pada intake cairan. Pada orang dewasa normal mengeluarkan urine kira-kira 1500-1600 ml/hari, atau 60 ml/menit; jika pengeluaran urine kurang dari 30 ml kemungkinan terjadi gagal ginjal.

Ginjal menghasilkan hormone eritropoitin yang berfungsi untuk merangsang produksi eritropoitiserin yang merupakan bahan baku sel darah merah pada sum-sum tulang hormone dirangsang karena kekurangan aliran darah (hipoksia) pada ginjal. Disamping eritropoin, ginjal juga menghasilkan hormone rennin yang berfungsi sebagai pengatur aliran darah ginjal pada saat terjadi di glomerulus pada apparatus juxtaglomerulus di nefron. Rennin berfungsi sebagai enzim yang berfungsi mengubah angiotensinogen (dihasilkan di hati) menjadi angiotensin I yang kemudian diubah di panl-pam menjadi angiotensin II dan angiontensin III. Angiontensin II berdampak pada vasokontriksi dan menstimulus aldosteron untuk menahan/meretensi air dan meningkatkan volume darah. Angiontensin III memberikan efek tekanan pada aliran pembuluh darah arteri

2. Proses Berkemih

Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria (kanding kemih). Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan saraf bila urinaria berisi kurang lebih 250-450cc (pada orang dewasa) dan 200-250 cc (pada anak-anak).

Mekanisme berkemih terjadi karena vesika urinariaberisi urine yang dapat menimbulkan rangsangan pada saraf-saraf di dinding vesika urinaria. Kemudian rangsangan tersebut diteruskan melalui medulla spinalis ke pusat pengontrol berkemih yang terdapat di korteks serebral. Selanjutny, otak memberikan inpuls/rangsangan melalui medulla spinalis ke neuromotoris di daerah sacral, kemudian terjadi koneksi otot detrusor dan relaksasi otot spihincter interna.

Urine dilepaskan dari vesika urinaria, tetapi masih tertahan sphincter eksterna. Jika waktu dan tempat memungkinkan, akan menyebabkan relaksasi sphincter eksternal dan urine kemungkinan dikeluarkan (berkemih).

Komposisi Urine:

ü  Air (96%)

ü  Larutan (4%)

  •    Larutan organic

Urea, ammonia, keratin, dan asam urat

  •  Larutan anorganik

Natrium (sodium), klorida, kalium (potasium), sulfat, magnesium, fosfor. Natrium klorida merupakan garam anorganik yang paling banyak.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Eliminasi Urine

  • Pertumbuhan dan perkembangan

Usia dan berat badan badan dapat mempengaruhi jumlah pengeluaran urine. Pada orang tua volume bladder berkurang demikian juga wanita hamil sehingga frekuensi berkemih juga akan lebih sering.

  • Sosiokultural

Budaya masyarakat dimana sebagian masyarakat hanya dapat miksi pada tempat tertutup dan sebaliknya ada masyarakat yang dapat kemih pada lokasi terbuka.

  • Psikologis

Pada keadaan cemas dan stres akan meningkatkan stimulasi berkemih.

  • Kebiasaan seseorang

Misalnya seseorang hanya bisa berkemih di toilet, sehingga ia dapat berkemih dengan menggunakan pot urine.

  • Tonus otot

Eliminasi urine memburuhkan tonus otot bladder, otot abdomen dan pelvis untuk berkontraks. Jika ada gangguan tonus ootot dorongan untuk berkemih juga akan berkurang.

  • Intake cairan dan makanan

Alkohol menghambat anti diuretik hormon (ADH) untuk meningkatkan pembuangan urine, kopi, teh, coklat, cola (mengandung kafein) dapatmeningkatkan pembuangan dan ekskresi urine.

  • Kondisi penyakit

Pada pasien yang demam akan terjadi penurunan produksi urune karena banyak cairan yang dikeluarkan melalui kulit. Peradangan dan iritasi organ kemih yang menimbulkan retensi urine.

  • Pembedahan

Penggunaan anastesi menurunkan filtrasi glomerulus sehingga produksi urine akan menurun.

  • Pemeriksaan diagnostik

Intravenus pyelogram dimana pasien dibatasi intake sebelum prosedur untuk mengurangi out put urine. Cytopospy dapat menimblkan endema lokal pada uretra, spasme pada spincter bladder sehingga dapat menimbulkan urine.

  • Respon keinginan awal untuk berkemih

Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat menyebabkan urine banyak tertahan di dalam vesika urinaria, sehingga memengaruhi ukuran vesika urinaria dan jimlah pengeluaran urine.

  • Tingkat aktivitas

Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik untuk fungsi sphincter. Kemampuan tonus otot didapatkan dengan beraktivitas. Hilangnya tonus otot vesika urinaria dapt menyebabkan kemampuan pengontrolan berkemih menurun.

  • Pengobatan

Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya peningkatam atau penurunan proses perkemihan. Misalnya pemberian diuretic dapat meningkatkan jumlah urine, sedangkan pemberian obat anti kolinergik dan anti hipertensi dapat menyebabkan retensi urine.

4. Pengkajian pada kebutuhan elimininasi urine meliputi :

Kebiasaan berkemih
Pengkajian ini meliputi bagaimana kebiasaan berkemih serta hambatannya. Frekuensi berkemih bergantung pada kebiasaan dan kesempatan. Banyak orang berkemih setiap hari pada waktu bangun tidur dan tidak memerlukan waktu untuk berkemih pada malam hari.
Pola berkemih meliputi :

  • Frekuensi berkemih

Frekuensi berkemih menentukan berapa kali individu berkemih dalam waktu 24 jam.

  • Urgensi

Perasaan seseorang untuk berkemih seperti sesorng sering ke toilet karena takut mengalami inkontinensia jika tidak berkemih.

  • Disruria

Keadaan rasa sakit atau kesulitan saat berkemih. Keadaan demikian dapat ditemukan pada striktur uretra , infeksi saluran kemih, trauma pada vesika urinaria, dan uretra.

  • Poliuria

Keadaanya produksi urien yang abnormal dalam jumlah besar tanpa adanya peningkatan asupan cairan . keadaan demikian dapat terjadi pada penyakit diabetes melitus ,defisiensi ADH ,dan penyakit ginjal kronis.

  • Urinaria supresi

Keadaan produksi urine yang berhenti secara mendadak. Bila produksi kurang dari 100 ml/ hari dapat dikatakan sebagai anuria, tetapi bila produksinya antara 100-500 ml/ hari dapat dikatakan sebagai oligouria. Kondisi demikian dapat ditemukan pada penyakit ginjal, kegagalan jantung, luka bakar, dan renjantan (syok). Secara normal, produksi urine oleh ginjal pada orang dewasa memiliki kecepatan 60-120 ml/jam (720-1.440ml/hr).

5. Volume urine

Volume urine menentukan beberapa jumlah urine yang dikeluarkan dalam waktu 24 jam. Berdasarkan usia, volume urine normal dapat ditentukan sebagai berikut.

No.

Usia

Jumlah/Hari

1.

1-2 Hari

15-60 ml

2.

3-10 Hari

100-300 ml

3.

10 hari-2 Bulan

250-400 ml

4.

2 Bulan -1 tahun

400-500 ml

5.

1- 3 tahun

500-600 ml

6.

3-5 tahun

600-700 ml

7.

5-8 tahun

700-1000 ml

8.

8-14 tahun

800-1400 ml

9.

14 Tahun – dewasa

1500 ml

10.

Dewasa tua

≤ 1500 ml

  1. Kedaan urine,  meliputi :
No. Keadaan Normal Interpretasi
1. Warna Kekuning-kuningan Urine bewarna orange gelap menunjukan adanya pengaruh obat,sedangkan warna merah dan kuning kecoklatan  mengindikasikan adanya penyakit.
2. Bau Aromatik Bau menyengat merupakan indikasi adanya masalah seperti infeksi atau penggunaan obat tertentu.
3. Berat jenis 1,010-1,030 Menunjukkan adanya konsentrasi urine.
4. Kejernihan Terang dan transparan Adanya kekeruhan karena mukus atau pus.
5. pH Sedikit asam

(4,5-7,5)

Dapat menunjukan keseimbangan asam-basa: bila bersifst alkali menunjukan adanya aktifitas bakteri.
6. Protein Molekul protein yang besar seperti: albumin, fibrinogen, atau globulin tidak dapat  disaring melalui ginjal-urine. Pada kondisi kerusakan ginjal, molekul tersebut dapat melewati saringan ke urine.
7. Darah Tak tampak jelas Hematuria menunjukan trauma atau penyakit pada saluran kemih bagian bawah.
8. Glukosa Adanya jumlah glukosa dalam urine tidak berarti bila hanya bersifat sementara, misalnya pada seseorang yang makan gula banyak. Apabila menetap terjadi pada pasien diabetes mellitus.

Gangguan atau masalah kebutuhan eliminasi Urine

  1. Retensi urine

Retensi urine merupakan penumpukan urine dalam kendung kemih akibat ketidak mampuan kandung kemih untuk mengosongkan kandung kemih. Hal ini menyebabkan distensi vesika urinaria atau merupakan keadaan ketika seseorang mengalami pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap. Dalam keadaan distensi, vesika dapat menampung urine sebanyak 3000-4000 ml urine.

Tanda klinis retensi :

1)      Ketidaknyamanan daerah pubis

2)      Distensi vesika urinaria

3)      Ketidaksanggupan untuk berkemih

4)      Sering berkemih saat vesika urinaria berisi sedikit urine (25-50 ml)

5)      Meningkatkan keresahan da keinginan berkemih

6)      Adanya urine sebanyak 3000-4000 ml dalam kandung kemih

Penyebab :

–          Operasi pada daerah abdomen bawah, pelvis vesika urinaria

–          Trauma sum-sum tulang belakan

–          Tekanan uretra yang tinggi karena otot detrusor yang lemah

–          Sphincter yang kuat

–          Sumbatan (struktur uretra dan pembesaran kelenjar prostat)

  1. Inkontinensia urine

Inkontinensia urine merupakan ketidak mampuan otot sphincter eksternal semetara atau menetap untuk mengontrol ekskresi urine. Secara umum, penyebab dari inkontenesia urine adalah proses penuaan (aging process), pembesaran kelenjar prostat, serta penurunan kesadaran, serta penggunaan obat narkotika dan sedative.

  1. Enuresis

Enuresis merupakan ketidak sanggupan menahan kemih (mengompol) yang diakibatkan tidak mampu mengontrol sphincter eksterna. Biasanya, enursis terjadi pada anak atau orang jompo. Umumnya, enuresis terjadi pada malam hari (nocturnal enuresis)

Faktor penyebab enuresis:

1)      Kapasitas vesika urinaria lebih besar dari normal.

2)      Anak-anak yang tidurnya bersuara dan tanda-tanda dari indikasi keinginan berkemih tidak diketahui. Hal itu mengakibatkan terlambatnya bangun tidur untuk ke kamar mandi.

3)      Vesika urinaria pake rangsang, dan seterusnya, tidak menampung urine dalam jumlah besar

4)      Suasana emosional yang tidak menyenangkan di rumah (misalnya, persaingan dengan saudara kandung atau cekcok dengan orang tua)

5)      Orang tua yang mempunyai pendapat bahwa anaknya akan mengatasi kebiasaannya tanpa dibantu dengan mendidiknya

6)      Infeksi saluran kemih, perubahan fisik, atau neurologis system perkemihan

7)      Makanan ang banyak mengandung garam dan mineral

8)      Anak yang takut jalan gelap untuk ke kamar mandi

  1. Tindakan mengatasi masalah eliminasi urine
  • Melakukan kateterisasi

Kateterisasi adalah suatu tindakan memasukan kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra untuk membantu memenuhi kebutuhan eliminasi, sebagai pengambilan bahan pemeriksaan. Dalam pelaksanaannya, kateterisasi terbagi menjdai dua tipe indikasi, yaitu tipe intermiten (straight kateter) dan indwelling (foley kateter)

Indikasi :

  1. Tipe intermiten
  • Tidak mampu berkemih 8-12 jam setelah operasi
  • Retensi akut setelah trauma uretra
  • Tidak mampu berkemih akibat obat sedative analgesic
  • Cedera tulang belakang
  • Degenerasi neuromuscular secara progresif
  • Untuk mengeluarkan urine residual
  1. Tipe indwelling:
  • Obstruksi aliran urine
  • Post op uretra dan struktur disekitarnya (TUR-P)
  • Obstruksi  uretra
  • Inkontinesia dan disorientasi berat

Persiapan Alat dan Bahan :

ü Sarung tangan steril

ü Kateter steril (sesuai dengan ukuran dan jelas)

ü Duk steril

ü Minyak pelumas/jelly

ü Larutan pembersih antiseptic (kapas sublimit)

ü Spuit yag berisi cairan

ü Pinset anatomi

ü Bengkok

ü Urineal bag

ü Sampiran

Prosedur kerja (pada perempuan)

  1. Cuci tangan
  2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
  3. Atur ruangan
  4. Pasang perlak/alas
  5. Gunakan sarung steril
  6. Pasang duk steril
  7. Bersihkan vulva dengan kapas sublimit dari atas ke bawah (kurang lebih 3 kali hingga bersih)
  8. Buka labia mayor dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri. Bersihkan bagian dalam
  9. Kateter diberi minyak pelumas atau jelly pada ujungnya, lalu asupan pelan-pelan sambil anjurkan untuk tarik napas, asupan (2,5-5 cm) atau hingga urine keluar
  10. Setelah selesai, isi balon dengan cairan akuides atau sejenisnya dengan menggunakan spuit untuk uang dilepas tetap. Bila tidak dipasang tetap, tarik kembalu sambil pasien disuruh napas dalam
  11. Sambung kateter dengan urineal bag dan fiksasi samping
  12. Rapatkan alat

m. Cuci tangan

  • Menolong buang air kecil menggunakan urineal

Tindakan membantu pasien yang tidak mampu buang air kecil sendiri di kamar kecil dilakukan dengan menggunakan alat penampung (urineal). Hal tersebut dilakukan untuk menampung urine dan mengetahui kelainan dari urine (warna dan jumlah)

Persiapan alat dan bahan :

  1. Urineal
  2. Pengalas
  3. Tisu

Prosedur kerja

  1. Cuci tangan
  2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
  3. Pasang alas urineal dibawah glutea
  4. Lepaspakaian bawah pasien
  5. Pasang urineal dibawah glutea/pinggul atau diantara ke dua paha
  6. Anjurkan pasien untuk berkemih
  7. Setelah selesai, rapikan alat
  8. Cuci tangan, catat warna, dan jumlah produksi urine.

B.     Kebutuhan Eliminasi Alvi

Proses Buaang Air Besar  (Defikasi)Defikasi merupakan pengeluaran feses dari anus dan rektum (bowel movement). Secara umum, terdapat dua macam reflex yang membantu proses defikasi yaitu reflex defikasi intrindik dan reflex defikasi parasimpatis. Reflex defikasi intrinsic dimulai dari adanya zat sisa makanan (feses) dalam rektum sehingga terjadi distensi, kemudian flexus mesentrikus merangsang gerakan peristaltic, dan akhirnya feses sampai di anus. Lalu pada saat sphincter interna relaksasi, maka terjadilah proses defikasi. Sedangkan, reflex defekasi parasimpatis dimulai dari adanya feses dalam rektum yang merangsang saraf rektum, ke spinal cord, dan merangsang ke kolon desenden, kemudian ke sigmoid, lalu ke rektum dengan gerakan peristaltik dan akhirnya terjadi relaksasi sphincter interna, maka terjadilah proses defekasi saat sphincter interna berelaksasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi defikasi

Usia

Setiap tahap perkembangan /usia memiliki kemampuan mengontrol proses defikasi yang bereda. Bayi belum memiliki kemampuan untuk mengontrol secara penuh dalam buang air besar, sedangkan orang dewasa sudah memiliki kemampuan mengontrol secara penuh, kemudian pada usia lanjut pengontrolan tersebut mengalami penurunan.

Diet

Pola atau jenis makanan yang dikonsumsi dapat mempengaruhi proses defikasi.  Makanan yang memiliki kandungan serat tinggi dapat membantu proses percepatan defikasi dan jumlah yang dikonsumsi pun dapat mempengaruhinya.

Pemasukan cairan
Pemasukan cairan yang kuang dalam tubuh membuat defikasi menjadi keras. Oleh karena proses absorpsi air yang kurang menyebabkan kesulitan proses defikasi.

Aktivitas
Aktivitas dapat mempengaruhi proses defikasi mempengaruhi aktivitas tonus otot abdomen, velvis dan diafragma yang dapat membantu kelancaran proses defikasi. Hal ini kemudian membuat proses gerakan peristaltik pada daerah kolon dapat bertambah baik.

Gaya hidup
Kebiasaan atau gaya hidup dapat mempengaruhi proses defikasi. Hal ini dapat terlihat pada seseorang yang memiliki gaya hidup sehat/kebiasaan melakukan buang air besar di tempat yang bersih atau toilet, ketika seseorang tersebut buang air besar ditempat yang terbuka atau tempat kotor, maka ia akan mengalami kesulitan dalam proses defikasi.

Pengobatan
Pengobatan juga dapat mempengaruhi proses defikasi seperti penggunaan laksantif atau antisida yang terlalu sering. Kedua jenis tersebut dapat melunakan feses dan meningkatkan peristaltik usus. Penggunaan lama menyebabkan usus besar kehilangan tonus otot nya dan menjadi kurang responsif terhadap stimulasi yang diberikan oleh laksantif.

Penyakit
Ada beberapa penyakit yang dapat mempengaruhi defikasi, biasanya penyakit tersebut berhubungan langsung dengan sistem pencernaan, seperti gastroenteritis, thypoid, atau penyakit lainnya.

Rasa sakit atau nyeri
Adanya nyeri dapat mempengaruhi kemampuan atau keinginan untuk defekasi seperti pada kasus hermorrhoid dan episiotomy.

Kerusakan motorik dan sensorik
Kerusakan pada sistem sensorik dan motorik dapat mempengaruhi proses defikasi karena dapat menimbulkan proses penurunan stimulasi sensoris dalam melakukan defikasi. Hal tersebut dapat di akibatkan karena kerusakan pada tulang belakang atau kerusakan saraf lain nya .

  1. Masalah eliminasi alvi
  2. Konstivasi adalah menurunnya frekuensi defikasi di sertai dengan pengeluaran feses yang sulit (konsentrasi yang keras)

Penyebab :

  • Kebiasaan defikasi yang tidak teratur
  • Penggunaan lasatif yang berlebihan
  • Stress psikologi yang berlebihan
  • Diet yang tidak tepat
  • Kekurangan cairan
  • Obat-obatan
  • Kurang latihan
  • Umur
  • Proses penyakit
  1. Fecial infaction adalah kumpulan feses yang mengeras atau merupakan dempul rektum atau colon sigmoid. Hasil dari penahan dan penumpukan material feses dalam waktu lama.

Penyebab :

  • Pola defikasi tidak teratur
  • Konstifasi
  • Obat-obatan tertentu
  • Intake cairan yang kurang
  • Kurang makanan yang berserat
  • Kurang aktivitas
  • Kelemahan tonus otot
  1. Diare adalah pengeluaran feses cair lebih dari 3x/hari

Penyebab :

  • Makanan terkontaminasi
  • Stress psikologi
  • Alergi makanan
  1. Kembung adalah menumpiknya gas pada lumen intestinal

Penyebab :

  • Udara yang diteguk
  • Kegiatan bakteri pada chime dalam usus besar
  • Konstipasi
  • Efek dari anestesi
  • Kurang aktivitas
  • diet

Tindakan mengatasi masalah eliminasi alvi.
Salah satu tindakan untuk mengatasi masalah eliminasi alvi yaitu buang air besar dengan menggunakan pispot merupaka suatu tindakan pada pasien yang tidak mampu untuk buang air besar secara sendiri ke kamar kecil dengan membantunya menggunakan pispot (penampung) untuk buang air besar di tempat tidur. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan eliminasi alvi (buang air bsar).

Persiapan alat dan bahan :

  1. Alas/petak
  2. Pispot
  3. Air bersih
  4. tisu
  5. sampiran apabila tempat pasien di bangsal umum
  6. sarung lengan

Cara pelaksanaan :

ü  Cuci tangan

ü  Jelaskan mengenai prosedur yang akan dilaksanakan pada pasien

ü  Pasang sampiran kalau di bangsal umum

ü  Gunakan sarung tangan

ü  Pasang pengalas di bawah glutea

ü  Tempatkan pispot diantara pengalas tepat dibawah glutea dengan posisi bagian lubang pispot tepat di bawah rektum

ü  Setelah pispot tepat dibawah glutea, tanyakan pada pasien apakah sudah nyaman atau  belum. Kalau belum, atur sesuai kebutuhan.

ü  Anjurkan pasien untuk BAB pada pispot yang telah disediakan.

ü  Setelah selesai, siram dengan air hingga bersih. Kemudian  keringkan dengan tisu

ü  Catat tanggal dan jam defikasi serta karakteristiknya

ü  Cuci tangan


DAFTAR PUSTAKA

 

Hidayat, A.Aziz alimul. Musrifatul Hidayat. 2008.Keterampilan Dasar Klinik untuk Kebidanan. Salemba Medika. Jakarta

Hidayat, A.Aziz alimul. 2006.Kebutuhan Dasar Manusia. Salemba Medika. Jakarta

Rohimah,Dkk. 2011. Keterampilan Dasar Praktik Klinik. Trans Info Media. Jakarta